Senin, 28 November 2016

TEKNOLOGI FARMASI SUPPOSITORIA



I.                   TUJUAN
Setelah mengikuti praktikum diharapkan mahasiswa :
1.      Mengetahui cara pembuatan suppositoria
2.      Mengetahui sifat suppositoria yang baik
3.      Mengetahui pengujian pada produk suppositoria

II.                DASAR TEORI
Supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Supositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar supositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul dan ester asam lemak polietilen glikol. (Anonim, 2015)
Supositoria Lemak Coklat Supositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan mencampur bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk sesuai, atau dibuat dengan minyak dalam keadaan lebur dan membiarkan suspensi yang dihasilkan menjadi dingin di dalam cetakan. (Anonim, 2015)
Supositoria rektal Supsitoria rektal untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g. (Anonim, 2015)
Keuntungan penggunaan obat (Anonim, 2015) dalam Suppositoria dibanding  peroral, yaitu
a.       Dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung.
b.      Dapat menghindari kerusakan obat oleh enzym pencernaan dan asam lambung.
c.       Obat dapat masuk langsung dalam saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat daripada penggunaan obat peroral.
d.      Baik bagi pasien yang mudah muntah atau tidak sadar.
Faktor fisika-kimia dari obat dan basis (Anonim, 2015) :
a.           Kelarutan obat : Obat yang mudah larut dalam lemak akan lebih cepat terabsorpsi dari pada obat yang larut dalam air.
b.           Kadar obat dalam basis : bila kadar obat naik maka absorpsi obat  makin cepat.
c.           Ukuran partikel : ukuran partikel obat akan mempengaruhi kecepatan larut dari obat ke cairan rektal.     
d.          Basis Suppositoria : Obat  yang larut  dalam air dan berada  dalam basis lemak  dilepas segera ke cairan rektal bila basis cepat  melepas setelah masuk ke dalam rektum, dan obat akan segera diabsorpsi dan aksi kerja awal obat akan segera nyata. Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis larut dalam air, aksi kerja awal dari obat akan segera nyata bila basis tadi segera larut dalam air.
        Pada pengisian massa suppositoria ke dalam cetakan, lemak coklat cepat membeku dan pada pendinginan terjadi susut volume hingga terjadi lubang di atas masa, maka pada pencetakan harus diisi lebih, baru setelah dingin kelebihannya dipotong. (Anief, 1989)
        Untuk meningkatkan titik lebur lemak coklat digunakan tambahan Cera Flava tidak boleh dari 6 % sebab akan membuat campuran mempunyai titik lebur di atas 37 o C dan tidak kurang dari 4 % karena titik lebur campuran akan lebih rendah dari titik lebur lemak coklat yaitu 33 o C. Penambahan cera flava juga dapat menaikkan daya serap lemak coklat terhadap air. (Anief, 1989)
        Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui berat lemak coklat yang mempunyai besar volume yang sama dengan 1 g obat. Bila pengisian suppositoria mengandung jumlah zat padat yang banyak, maka pengisian cetakan berkurang, dan apabila dipenuhi dengan campuran masa, maka akan diperoleh jumlah obat yang melebihi dosis. Maka untuk membuat suppositoria yang sesuai dilakukan dengan hitungan nilai tukar. (Anief, 1989)
        Suppositoria dibuat dengan 3 metode yaitu mencetak metode leburan, kompresi, atau digulung dan dibentuk dengan tangan. Metode yang sering digunakan pada pembuatan suppositoria baik dalam skala kecil maupun skala industri dengan adalah dengan pencetakan. Pada dasarnya langkah dalam metode pencetakan termasuk : a. melebur basis, mencampurkan bahan obat yang diinginkan, c. menuang hasil leburan ke dalam cetakan, d. membiarkan leburan menjadi dan mengental menjadi dingin dan mengental menjadi suppositoria dan e. melepaskan suppositoria dari cetakan. ( Ansel, 1989)
III.             ALAT DAN BAHAN
Alat    :
Cawan porselen
Timbangan 1 kg


Timbangan digital
Timbangan 2 kg


Waterbath
Termometer


Mortir dan stamper
Batang pengaduk


Pencetak suppositoria










Bahan :
Asetosal



Cera Flava



Oleum Cacao



Sediaan Supositoria jadi












IV.             CARA KERJA
a. Pembuatan Supositoria
Ditimbang bahan -bahan dan disiapkan cetakan yang telah diolesi gliserin











Dilelehkan oleum cacao dan cera flava di atas waterbath








 


Dihaluskan asetosal dengan bantuan alkohol 96 %


 


Dinginkan lelehan basis sampai agak mengental


 


Dicampurkan asetosal ke dalam basis di aduk sampai homogen.


 


Dimasukkan ke dalam cetakan tunggu sampai dingin dan membeku


e.       Evaluasi suppositoria
a.       Keseragaman sediaan.


 
Ditimbang 3 suppositoria buatan sendiri dan sediaan jadi.








 


Ditimbang suppositoria satu per satu



 
Dihitung bobot rata-rata dan dicari harga CV

b.      Uji kerapuhan


 
Disiapkan suppositoria








 


Disiapkan anak timbangan 1 kg dan 2 kg



 
Ditimpakan dengan bantuan cawan petri, anak timbangan di atas suppositoria








 


Dicatat waktu suppositoria hancur oleh masing- masing berat anak timbangan

c.       Uji Organoleptis


 
Disiapkan suppositoria








 


Diamati organoleptis berupa warna, bau dan bentuk.



 
Dicatat organoleptis dari suppositoria

d.      Uji Homogenitas.


 
Disiapkan suppositoria








 


Dibelah supositoria secara melintang



 
Diamati dan dicatat homogenitasnya

e.       Uji waktu hancur


 
Disiapkan alat uji waktu hancur


 


Diatur suhu pada 37 o C


 


Dimasukkan suppositoria ke dalam alat

Dicatat waktu supositoria mulai melebur hingga meleleh sempurna









V.                DATA PENGAMATAN
1.      Penimbangan bahan









2. Uji keseragaman bobot





3. Kerapuhan supositoria

4. Organoleptis

5. Homogenitas


6. Uji waktu lebur


VI.              PEMBAHASAN
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan semipadat yang pemakaiannya dengan cara dimasukkan melalui lubang atau celah pada tubuh, dimana ia akan melebur, melunak atau melarut dan memberikan efek lokal atau sistemik.
Kontrol kualitas formulasi sediaan suppositoria untuk menjamin tiap lot suppositoria yang dibuat, secara tetap memenuhi standar yang ditetapkan selama pembuatan lot eksperimen awal. Suppositoria akhir secara rutin diperiksa penampilannya, setelah dipotong memanjang, untuk keseragaman campuran tersebut. Suppositoria tersebut diuji bahan-bahan aktifnya untuk menjamin bahwa masing-masing suppositoria isinya sesuai dengan apa yang disebutkan pada etiket. Kontrol kualitas sediaan suppositoria antara lain uji kisaran leleh, uji pencairan atau waktu melunak, uji kehancuran, uji ukuran partikel atau penghabluran, uji distribusi bahan obat dan uji disolusi. Dalam praktikum kontrol sediaan yang diuji adalah Uji keseragaman bobot, organoleptis, uji kerapuhan, homgenitas dan uji waktu lebur.
Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui apakah bobot tiap sediaan sudah sama atau belum, jika belum maka perlu dicatat. Keseragaman bobot akan mempengaruhi terhadap kemurnian suatu sediaan karena dikhawatirkan zat lain yang ikut tercampur. Caranya dengan ditimbang saksama masing-masing 3 suppositoria sediaan jadi dan dibuat sendiri, satu persatu kemudian dihitung berat rata-ratanya. Keseragaman bobot dilakukan untuk mengetahui keseragaman kandungan yang terdapat dalam masing-masing suppositoria tersebut sama dan dapat memberikan efek terapi yang sama pula. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien variasi dari suppositoria sediaan jadi adalah 5,03 % dan suppositoria buatan sendiri 3,52 %.. Menurut Farmakope simpangan baku relatif atau CV yang dapat diterima adalah kurang dari atau sama dengan 6,0 % sehingga dapat disimpulkan kedua suppositoria memenuhi syarat. Semakin kecil kofisien variasi maka semakin kecil pula perbedaan bobot tiap suppositoria. Beberapa faktor yang mempengaruhi variasi dalam penimbangan bobot antara lain kondisi penimbangan dan bahan yang ditimbang. Saat praktikum kondisi dari suppositoria sediaan jadi sudah rusak dan permukaan lembek karena disimpan pada suhu ruangan yang panas.
Supositoria sebaiknya jangan terlalu lembek maupun terlalu keras yang menjadikannya sukar meleleh. Untuk uji kerapuhan dapat digunakan uji elastisitas. Supositoria dipotong horizontal. Kemudian diberi beban seberat 1 kg dan 2 kg pada suatu permukaan datar dan dimana suppositoria rusak adalah titik hancurnya, atau gaya yang menentukan karakteristik kekerasan dan kerapuhan suppositoria tersebut. Suppositoria dangan bentuk-bentuk yang berbeda mempunyai titik hancur yang berbesa pula. Titik hancur yang dikehendaki dari masing-masing bentuk suppositoria yang beranekaragam ini ditetapkan sebagai level yang menahan kekuatan (gaya) hancur yang disebabkan oleh berbagai tipe penanganan, yakni produksi, pemgemasan, pengiriman dan pengangkutan dalam penggunaan untuk pasien. Pada suppositoria sediaan jadi dengan beban 1 kg hancur dalam waktu 1 detik sedangkan dengan beban 2 kg hancur dalam waktu 0,5 detik. Dapat dinyatakan suppositoria ini mudah hancur. Untuik suppositoria buatan sendiri dengan beban 1 kg hancur dalam waktu 63 detik sedangkan dengan beban 2 kg hancur dalam waktu 11 detik. Dapat dinyatakan suppositoria ini bentuknya kompak.
Uji homogenitas ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahan aktif dapat tercampur rata dengan bahan dasar suppo atau tidak, jika tidak dapat tercampur maka akan mempengaruhi proses absorbsi dalam tubuh. Obat yang terlepas akan memberikan terapi yang berbeda. Cara menguji homogenitas yaitu dengan cara membelah suppositoria dalam posisi melintang dan diamati homogenitas warna secara visual. Dari hasil pengamatan kedua jenis suppositoria dinyatakan homogen.
Bentuk suppositoria juga perlu diperhatikan karena jika dari bentuknya tidak seperti sediaan suppositoria pada umummya, maka seseorang yang tidak tahu akan mengira bahwa sediaan tersebut bukanlah obat. Untuk itu, bentuk juga sangat mendukung karena akan memberikan keyakinan pada pasien bahwa sediaa tersebut adalah suppositoria. Selain itu, suppositoria merupakan sediaan padat yang mempunyai bentuk torpedo. Penampialn suppositoria termasuk bau, warna, kondisi permukaan dan bentuk. Ini merupakan kontrol organoleptik. Suppositoria sediaan jadi memiliki organoleptis berwarna ungu, berbau agak tengik, dan berbentuk menyerupai peluru dan teksturnya keras. Mungkin suppsitoria disimpan di tempat yang tidak sesuai sehingga timbul bau tengik. Suppositoria buatan sendiri memiliki warna putih gading, bau aroma coklat dan bentuk menyerupai peluru dan teksturnya keras.
Uji waktu lebur dilakukan sebagai simulasi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan sediaan supositoria yang dibuat melebur dalam tubuh. Dilakukan dengan cara menyiapkan waterbath dan cawan yang diatur suhunya dengan suhu ±37°C. Kemudian dimasukkan supositoria ke dalam cawan dan diamati waktu leburnya. Suppositoria dinyatakan hancur sempurna bila berlarut sempurna atau terdispersi menjadi komponennya atau menjadi lunak  dan tidak memiliki inti berbentuk padat. Menurut Farmakope waktu yang diperlukan untuk menghancurkan suppositoria dengan basis lemak kecuali dinyatakan lain adalah 30 menit.. Untuk suppositoria sediaan jadi mulai meleleh dalam waktu 3 detik dan melebur sempurna dalam waktu 1 menit 57 detik sehingga dinyatakan memenuhi syarat. Untuk suppositoria buatan sendiri mulai meleleh dalam waktu 16 detik dan meleleh sempurna selama 5 menit 8 detik sehingga dinyatakan memenuhi syarat.
MAX
 
VII.          KESIMPULAN
1.      Supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tablet terdiri dari zat aktif dan zat tambahan yang dapat berupa bahan pengisi, bahan penghancur, bahan pengikat, bahan pelincir dan bahan tambahan lain yang diperbolehkan.
2.      Suppositoria dapat dibuat dengan pencetakan, kempa maupun dibentuk dengan tangan.
3.      Kontrol kualitas sediaan suppositoria antara lain uji kisaran leleh, uji pencairan atau waktu melunak, uji kehancuran, uji ukuran partikel atau penghabluran, uji distribusi bahan obat, homogenitas, organoleptis, uji kerapuhan dan uji disolusi.
4.      Koefisien variasi dari suppositoria sediaan jadi adalah 5,03 % dan suppositoria buatan sendiri 3,52 %. Karena koefisien variasi kurang dari 6,0 % sehingga dapat disimpulkan kedua suppositoria memenuhi syarat.
5.      Suppositoria sediaan jadi dengan beban 1 kg hancur dalam waktu 1 detik sedangkan dengan beban 2 kg hancur dalam waktu 0,5 detik. Dapat dinyatakan suppositoria ini mudah hancur. Untuik suppositoria buatan sendiri dengan beban 1 kg hancur dalam waktu 63 detik sedangkan dengan beban 2 kg hancur dalam waktu 11 detik. Dapat dinyatakan suppositoria ini bentuknya kompak.
6.      Cara menguji homogenitas yaitu dengan cara membelah suppositoria dalam posisi melintang dan diamati homogenitas warna secara visual. Dari hasil pengamatan kedua jenis suppositoria dinyatakan homogen
7.      Organoleptis sediaan suppositoria jadi kurang baik karena berbau tengik sedangkan suppositoria buatan sendiri organoleptisnya baik.
8.      Untuk suppositoria sediaan jadi mulai meleleh dalam waktu 3 detik dan melebur sempurna dalam waktu 1 menit 57 detik sehingga dinyatakan memenuhi syarat. Untuk suppositoria buatan sendiri mulai meleleh dalam waktu 16 detik dan meleleh sempurna selama 5 menit 8 detik sehingga dinyatakan memenuhi syarat.
VIII.       DAFTAR PUSTAKA
1.      Anief, M. (2000).Ilmu Meracik Obat. Cetakan ke-9.Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.
2.      Anonim, 2004, Ilmu Resep Teori jilid III, Pusdinakes  Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jakarta
3.      Ansel.(1989). Pengantar Bentuk SediaanFarmasi. Edisi IV. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
4.      Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1979). FarmakopeIndonesia.Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.






Daftar alat
No
Gambar
Nama dan Fungsi
1.
Timbangan digital
Untuk menimbang bahan

2
Mortir dan stamper
Untuk menghaluskan dan mencampur bahan
3
Cetakan suppositoria
Untuk tempat membentuk suppositoria
4
Termometer
Mengukur suhu saat uji waktu hancur
5
Water bath
Sebagai sumber panas
6
Alat untuk menguji waktu  leleh suppositoria

7
Cawan porselen
Tempat memenaskan basis dan membantu uji waktu leleh
Suppositoria sediaan jadi








Suppositoria buatan sendiri

Minggu, 14 Agustus 2016

e book farmasi

Bagi yang sedang kuliah atau belajar...
silahkan download e book beberapa materi di sini

Jumat, 20 Mei 2016

Antibiotik

Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik alami maupun sintetik, yang dihasilkan oleh mikroorganisme bakteri ataupun jamur. Pada dasarnya tujuan utama penggunaan antibiotik untuk meniadakan infeksi, namun semakin luasnya penggunaan antibiotik sekarang ini justru semakin meluas pula timbulnya infeksi baru akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional.

Penggolongan Antibiotik berdasarkan mekanisme kerjanya :

Inhibitor sintesis dinding sel bakteri, mencakup golongan Penicillin, Polypeptide dan Cephalosporin
Inhibitor transkripsi dan replikasi, mencakup golongan Quinolone,
Inhibitor sintesis protein, mencakup banyak jenis antibiotik, terutama dari golongan Macrolide, Aminoglycoside, dan Tetracycline
Inhibitor fungsi membran sel, misalnya ionomycin, valinomycin;
Inhibitor fungsi sel lainnya, seperti golongan sulfa atau sulfonamida,
Antimetabolit, misalnya azaserine.
Penggolongan Antibiotik berdasarkan struktur kimia :

Aminoglikosida
Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilmisin, paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
Beta-Laktam
Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin).
Glikopeptida
Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.
Polipeptida
Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin).
Polimiksin
Diantaranya polimiksin dan kolistin.
Kinolon (fluorokinolon)
Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin.
Streptogramin
Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin.
Oksazolidinon
Diantaranya linezolid dan AZD2563.
Sulfonamida
Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.
Antibiotika lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat.
Penggolongan Antibiotik berdasarkan daya kerjanya :

Bakterisid :
Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman. Termasuk dalam golongan ini adalah penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol , polipeptida, rifampisin, isoniazid dll.
Bakteriostatik :
Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat pertumbuhan kuman, TIDAK MEMBUNUHNYA, sehingga pembasmian kuman sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dll.
Manfaat dari pembagian ini dalam pemilihan antibiotika mungkin hanya terbatas, yakni pada kasus pembawa kuman (carrier), pada pasien-pasien dengan kondisi yang sangat lemah (debilitated) atau pada kasus-kasus dengan depresi imunologik tidak boleh memakai antibiotika bakteriostatik, tetapi harus bakterisid.

Penggolongan antibiotik berdasarkan spektrum kerjanya :

Spektrum luas (aktivitas luas) :
Antibiotik yang bersifat aktif bekerja terhadap banyak jenis mikroba yaitu bakteri gram positif dan gram negative. Contoh antibiotik dalam kelompok ini adalah sulfonamid, ampisilin, sefalosforin, kloramfenikol, tetrasiklin, dan rifampisin.

Spektrum sempit (aktivitas sempit) :
Antibiotik yang bersifat aktif bekerja hanya terhadap beberapa jenis mikroba saja, bakteri gram positif atau gram negative saja. Contohnya eritromisin, klindamisin, kanamisin, hanya bekerja terhadap mikroba gram-positif. Sedang streptomisin, gentamisin, hanya bekerja terhadap kuman gram-negatif.

Penggolongan antibiotik berdasarkan penyakitnya :

Golongan Penisilin
Dihasilkan oleh fungi Penicillinum chrysognum. Aktif terutama pada bakteri gram (+) dan beberapa gram (-). Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi pada saluran napas bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, untuk infeksi telinga, bronchitis kronik, pneumonia, saluran kemih (kandung kemih dan ginjal).
Contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : Ampisilin dan Amoksisilin. Untuk meningkatkan ketahanan thp b-laktamase : penambahan senyawa untuk memblokir & menginaktivasi b-laktamase. Misalnya Amoksisilin + asam klavulanat, Ampisilin + sulbaktam, Piperasilin + tazobaktam.

Efek samping : reaksi alergi, syok anafilaksis, kematian,Gangguan lambung & usus. Pada dosis amat tinggi dapat menimbulkan reaksi nefrotoksik dan neurotoksik. Aman bagi wanita hamil & menyusui

Golongan Sefalosporin
Dihasilkan oleh jamur Cephalosporium acremonium. Spektrum kerjanya luas meliputi bakteri gram positif dan negatif. Obat golongan ini barkaitan dengan penisilin dan digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernafasan bagian atas (hidung dan tenggorokan) seperti sakit tenggorokan, pneumonia, infeksi telinga, kulit dan jaringan lunak, tulang, dan saluran kemih (kandung kemih dan ginjal).
contoh obat yang termasuk dalam golongan ini antara lain : Sefradin, Sefaklor, Sefadroksil, Sefaleksin, E.coli, Klebsiella dan Proteus.

Penggolongan sefalosporin berdasarkan aktivitas & resistensinya terhadap b-laktamase:

Generasi I : aktif pada bakteri gram positif. Pada umumnya tidak tahan pada b laktamase. Misalnya sefalotin, sefazolin, sefradin, sefaleksin, sefadroksil. Digunakan secara oral pada infeksi saluran kemih ringan, infeksi saluran pernafasan yang tidak serius
Generasi II : lebih aktif terhadap kuman gram negatif. Lebih kuat terhadap blaktamase. Misalnya sefaklor, sefamandol, sefmetazol,sefuroksim
Generasi III : lebih aktif terhadap bakteri gram negatif , meliputi Pseudomonas aeruginosa dan bacteroides. Misalnya sefoperazone, sefotaksim, seftizoksim, sefotiam, sefiksim.Digunakan secara parenteral,pilihan pertama untuk sifilis
Generasi IV : Sangat resisten terhadap laktamase. Misalnya sefpirome dan sefepim
Golongan Lincosamides
Dihasilkan oleh Streptomyces lincolnensis dan bersifat bakteriostatis. Obat golongan ini dicadangkan untuk mengobati infeksi berbahaya pada pasien yang alergi terhadap penisilin atau pada kasus yang tidak sesuai diobati dengan penisilin. Spektrum kerjanya lebih sempit dari makrolida, terutama terhadap gram positif dan anaerob. Penggunaannya aktif terhadap Propionibacter acnes sehingga digunakan secara topikal pada acne.
Contoh obatnya yaitu Clindamycin (klindamisin) dan Linkomycin (linkomisin).

Golongan Tetracycline
Diperoleh dari Streptomyces aureofaciens & Streptomyces rimosus. Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi jenis yang sama seperti yang diobati penisilin dan juga untuk infeksi lainnya seperti kolera, demam berbintik Rocky Mountain, syanker, konjungtivitis mata, dan amubiasis intestinal. Dokter ahli kulit menggunakannya pula untuk mengobati beberapa jenis jerawat.
Adapun contoh obatnya yaitu : Tetrasiklin, Klortetrasiklin, Oksitetrasiklin, doksisiklin dan minosiklin.
Khasiatnya bersifat bakteriostatik , pada pemberian iv dapat dicapai kadar plasma yang bersifat bakterisid lemah.Mekanisme kerjanya mengganggu sintesis protein kuman Spektrum kerjanya luas kecuali thp Psudomonas & Proteus. Juga aktif terhadap Chlamydia trachomatis (penyebab penyakit mata), leptospirae, beberapa protozoa. Penggunaannya yaitu infeksi saluran nafas, paru-paru, saluran kemih, kulit dan mata. Namun dibatasi karena resistensinya dan efek sampingnya selama kehamilan & pada anak kecil.

Golongan Kloramfenikol
Bersifat bakteriostatik terhadap Enterobacter & S. aureus berdasarkan perintangan sintesis polipeptida kuman. Bersifat bakterisid terhadap S. pneumoniae, N. meningitidis & H. influenza. Obat golongan ini digunakan untuk mengobati infeksi yang berbahaya yang tidak efektif bila diobati dengan antibiotik  yang kurang efektif. Penggunaannya secara oral, sejak thn 1970-an dilarang di negara barat karena menyebabkan anemia aplastis. Sehingga hanya dianjurkan pada infeksi tifus (salmonella typhi) dan meningitis (khusus akibat H. influenzae). Juga digunakan sebagai salep 3% tetes/salep mata 0,25-1%. Contoh obatnya adalah Kloramfenikol, Turunannya yaitu tiamfenikol.
Golongan Makrolida
Bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerjanya yaitu pengikatan reversibel pada ribosom kuman, sehingga mengganggu sintesis protein. Penggunaannya merupakan pilihan pertama pada infeksi paru-paru. Digunakan untuk mengobati infeksi saluran nafas bagian atas seperti infeksi tenggorokan dan infeksi telinga, infeksi saluran nafas bagian bawah seperti pneumonia, untuk infeksi kulit dan jaringan lunak, untuk sifilis, dan efektif untuk penyakit legionnaire (penyakit yang ditularkan oleh serdadu sewaan). Sering pula digunakan untuk pasien yang alergi terhadap penisilin.Contoh obatnya : eritromisin, klaritromisin, roxitromisin, azitromisin, diritromisin serta spiramisin.
Golongan Kuinolon
Berkhasiat bakterisid pada fase pertumbuhan kuman, dgn menghambat enzim DNA gyrase bakteri sehingga menghambat sintesa DNA. Digunakan untuk mengobati sinusitis akut, infeksi saluran pernafasan bagian bawah serta pneumonia nosokomial, infeksi kulit dan jaringan kulit, infeksi tulang sendi, infeksi saluran kencing, Cystitis uncomplicated akut, prostates bacterial kronik, infeksi intra abdominal complicated, demam tifoid, penyakit menular seksual, serta efektif untuk mengobati Anthrax inhalational.
Penggolongan :
Generasi I : asam nalidiksat dan pipemidat digunakan pada ISK tanpa komplikasi
Generasi II : senyawa fluorkuinolon misal siprofloksasin, norfloksasin, pefloksasin,ofloksasin. Spektrum kerja lebih luas, dan dapat digunakan untuk infeksi sistemik lain.
Zat-zat long acting : misal sparfloksasin, trovafloksasin dan grepafloksasin.Spektrum kerja sangat luas dan meliputi gram positif.

Aminoglikosida
Dihasilkan oleh fungi Streptomyces & micromonospora.Mekanisme kerjanya : bakterisid, berpenetrasi pada dinding bakteri dan mengikatkan diri pada ribosom dalam sel.
Contoh obatnya : streptomisin, kanamisin, gentamisin, amikasin, neomisin

Penggunaan Aminoglikosida Streptomisin & kanamisin Þ injeksi pada TBC juga pada endocarditis,Gentamisin, amikasin bersama dengan penisilin pada infeksi dengan Pseudomonas,Gentamisin, tobramisin, neomisin juga sering diberikan secara topikal sebagai salep atau tetes mata/telinga,Efek samping : kerusakan pada organ pendengar dan keseimbangan serta nefrotoksik.

Monobaktam
Dihasilkan oleh Chromobacterium violaceum Bersifat bakterisid, dengan mekanisme yang sama dengan gol. b-laktam lainnya.Bekerja khusus pada kuman gram negatif aerob misal Pseudomonas, H.influenza yang resisten terhadap penisilinase Contoh : aztreonam
Sulfonamide
Merupakan antibiotika spektrum luas terhadap bakteri gram positrif dan negatif. Bersifat bakteriostatik. Mekanisme kerja : mencegah sintesis asam folat dalam bakteri yang dibutuhkan oleh bakteri untuk membentuk DNA dan RNA bakteri.Kombinasi sulfonamida : trisulfa (sulfadiazin, sulfamerazin dan sulfamezatin dengan perbandingan sama),Kotrimoksazol (sulfametoksazol + trimetoprim dengan perbandingan 5:1),Sulfadoksin + pirimetamin.
Penggunaan:
Infeksi saluran kemih : kotrimoksazol
Infeksi mata : sulfasetamid
Radang usus : sulfasalazin
Malaria tropikana : fansidar.
Mencegah infeksi pada luka bakar : silver sulfadiazine.
Tifus : kotrimoksazol.
Radang paru-paru pada pasien AIDS : kotrimoxazol

Sebaiknya tidak digunakan pada kehamilan teruama trimeseter akhir : icterus, hiperbilirubinemia

Vankomisin
Dihasikan oleh Streptomyces orientalis.Bersifat bakterisid thp kuman gram positif aerob dan anaerob.Merupakan antibiotik terakhir jika obat-obat lain tidak ampuh lagi
Penggunaan Antibiotik kombinasi :

Pada infeksi campuran, misalnya kombinasi obat-obat antikuman dan antifungi atau, dua antibiotik dengan spektrum sempit (gram positif + gram negatif) untuk memperluas aktifitas terapi : Basitrasin dan polimiksin dalam sediaan topikal.
Untuk memperoleh potensial, misalnya sulfametoksazol dengan trimetoprim (= kotrimoksazol) dan sefsulodin dengan gentamisin pada infeksi pseudomonas. Multi drug therapy (AZT + 3TC + ritonavir ) terhadap AIDS juga menghasilkan efek sangat baik.
Untuk mengatasi resistensi, misalnya Amoksisilin + asam klavulanat yang menginaktivir enzim penisilinase.
Untuk menghambat resistensi, khususnya pada infeksi menahun seperti tuberkulosa (rifampisin + INH + pirazinamida ) dan kusta (dapson + klofazimin dan /atau rifampisin).
Untuk mengurangi toksisitas, misalnya trisulfa dan sitostatika, karena dosis masing-masing komponen dapat dikurangi.

Senin, 02 Mei 2016

Obat batuk Alami

Batuk merupakan salah satu penyakit yang paling umum dan paling sering menyerang siapa saja, apalagi pada musim hujan maupun musim pancaroba. Apapun jenis batuknya, baik itu batuk karena flu, batuk kering, maupun batuk berdahak, pasti sangat mengganggu dan membuat tidak nyaman, beraktivitas tidak maksimal, beristirahat tidak nyenyak.  Pada umumnya, batuk terjadi karena ada sesuatu benda asing yang umumnya berupa debu atau kuman yang merangsang selaput lendir di tenggorokan anda. Hal ini yang kemudian membuat rasa gatal dan benda asing tersebut ingin dikeluarkan oleh tubuh dengan cara batuk. Untuk menghilangkan batuk, banyak cara yang bisa anda dilakukan. Banyak merk obat batuk baik sirup maupun tablet yang tersedia di toko dekat rumah. Namun, mengobati batuk secara alami lebih disarankan karena lebih aman tanpa efek samping pada kesehatan anda, juga tidak perlu biaya mahal. Berikut ini adalah cara-cara alamiah untuk menanggulangi batuk.
1. Hindari penyebab batuk dan alergi seperti makanan berlemak, makanan yang mengandung bahan pengawet, penyedap dan sebagainya, debu, dan es.
2. Banyak minum air putih yang paling bagus adalah air pitih hangat, karena air putih akan membersihkan tenggorokan dan mengencerkan dahak.
3. Hirup uap air hangat karena uap air ini akan mengencerkan dahak yang mengental.
4. Ambil 1 sendok kecap dan tetesi dengan jeruk nipis, ramuan ini akan membantu mengencerkan dahak anda.
5. Atau anda juga bisa membuat ramuan dari jahe, sereh, dan sedikit kencur yang direbus, minumlah ramuan ini 3 kali sehari. Untuk tambahan rasa anda juga dapat menambahkan gula merah. Selain untuk meringankan batuk, ramuan ini juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh anda.

Selamat mencoba. Keep Healthy..